Minggu, 28 Agustus 2016

Ekonomi Pancasila

Dalam perjalanannya dari awal hingga sekarang. Ekonomi Pancasila adalah hasil sublimasi dari bangsa Indonesia yang telah terumuskan dalam Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945. Pancasila sendiri adalah hasil galian para bapak pendiri bangsa atas dasar berkehidupan bangsa Indonesia bahkan sebelum kemerdekaan terwujud. Pancasila sendiri sebagai pedoman berkehidupan bangsa Indonesia sudah semestinya juga menjadi pedoman bangsa Indonesia dalam menjalankan perekonomian.
 Indonesia mengalami pasang surut perekonomian karena mengalami trial dan error dalam mengelola perekonomian bangsa untuk mencari model manakah yang tepat sebagai landasan ekonomi bangsa Indonesia untuk mencapai tujuan masyarakat yang adil dan makmur. Sistem ekonomi liberal dan terpimpin telah dicoba. Masing-masing memiliki kelemahan yang memberi dampak merugikan.
Sarino Mangunpranoto mengatakan bahwa ilmu ekonomi yang baik haruslah didasarkan atas konsepsi mengenai filsafat manusia yang benar. Inti dari filsafat manusia adalah dicapainya keseimbangan antara aspek badaniah dan aspek rohaniah. Teori ekonomi liberal atau marxistis yang terlalu didasarkan atas filsafat materialisme atau aspek kebendaan dari manusia tidak cocok bagi perekonomian Pancasila yang didasarkan atas cita-cita keseimbangan antara kedua aspek manusia.
Begitu pula dengan Hidajat Nataatmadja yang mampu meneropong kelemahan dasar ilmu ekonomi yang bisa membutakan mereka dalam praktek tanpa mengunakan pedoman ideologis. Terutama karena kita bangsa Indonesia, maka dalam menerapkan ilmu ekonomi di lapangan perlu dilandaskan pada ideologi bangsa yaitu Pancasila. Alasannya adalah. Membangun suatu teori baru berarti kita harus memulainya dari landasan filsafat teori ekonomi. Tanpa usaha ini apa yang akan kita bangun adalah variasi tambal sulam dari teori ekonomi yang ada. Hanya dengan penafsiran perilaku manusia atas dasar 'kedalamannya' seperti inilah ilmu ekonomi yang betul-betul bercorak Pancasila bisa dibangun. Hidajat sendiri mengatakan kedalaman yang paling dasar dari manusia terutama manusia Indonesia adalah ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ekonomi Pamcasila sendiri juga memiliki aspek-aspek spiritualitas religius menurut Ace Partadireja dengan bertolak pada pengertian bahwa manusia memiliki tiga aspek utama yaitu 'body', 'mind', dan 'spirit'. Ketiga aspek tersebut digunakan untuk melihat makna 'pembangunan' dengan mengembangkan ketiga aspek tersebut secara serasi. Sasaran 'pembangunan' adalah manusia itu sendiri. 'Manusia sempurna'sebagai tujuan akhir dari kehidupan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar